Ahli Menemukan Terobosan Ginjal Babi Bisa Untuk Transplantasi Pasien Ginjal Kronik

KPCDI – Para peneliti ahli bedah di Amerika Serikat baru saja menemukan terobosan melakukan transplantasi genetik ginjal babi kepada manusia. Para peneliti melakukan operasi ini atas persetujuan dari keluarga pasien dan menjadikannya yang pertama di dunia. 

Peneliti utama dr. Robert Montgomery menjelaskan operasi ini berlangsung selama dua jam di pusat medis New York University Langone Health. Saat itu, dokter bedah menghubungkan ginjal babi ke pembuluh darah pasien dengan kondisi mati otak dan hasilnya tidak ada tanda-tanda penolakan dari tubuh pasien terhadap ginjal hasil rekayasa genetik tersebut.  

“Itu berfungsi normal, dan tampaknya tidak mengalami penolakan,” kata dr. Robert sebagaimana dikutip dari BBC, Senin (8/11).

Setelah melakukan operasi, para peneliti juga melakukan observasi selama dua hari dengan terus memantau ginjal tersebut dengan melakukan berbagai pemeriksaan mendalam. dr. Robert menjelaskan ginjal tersebut berfungsi dengan baik seperti layaknya transplantasi ginjal antar manusia dan melihat ginjal babi genetik tersebut terlihat cukup kompatibel. 

Meskipun begitu, terobosan ini harus melewati serangkaian riset lanjutan jika akan dipergunakan secara lebih masif. Kabar baiknya, penemuan ini menjadi harapan baru ketersediaan donor organ yang sampai hari ini masih sangat sulit didapatkan. 

Menurutnya, ada kebutuhan mendesak menemukan lebih banyak organ bagi orang-orang yang berada di dalam daftar tunggu meskipun penemuan ini berbau kontroversial.

“Paradigma tradisional bahwa seseorang harus mati agar orang lain hidup tidak akan pernah bisa dipertahankan. Saya tentu memahami kekhawatiran dan apa yang akan saya katakan adalah bahwa saat ini sekitar 40% pasien yang menunggu transplantasi meninggal sebelum mereka menerimanya,” ujarnya.

Robert percaya bahwa dalam satu dekade, organ babi lainnya seperti jantung, paru-paru dan hati dapat diberikan kepada manusia yang membutuhkan transplantasi. Senada, Dokter Ginjal NHS Inggris mengatakan transplantasi hewan ke manusia telah menjadi sesuatu yang telah dipelajari selama beberapa dekade dan sangat menarik untuk melihat penemuan ini untuk mengambil langkah yang lebih maju.

Kondisi Di Indonesia

Berbicara soal kebutuhan donor ginjal untuk transplantasi memang menjadi hal yang mendesak di seluruh dunia. Khusus di Indonesia Presiden Joko Widodo juga telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 53 Tahun 2021 Tentang Transplantasi Organ dan Jaringan Tubuh. PP ini menjadi kabar baik bagi seluruh pasien yang membutuhkan transplantasi organ dan jaringan di Indonesia. 

Meskipun terbilang terlambat PP yang ditandatangani Jokowi pada 4 Maret 2021 adalah ikhtiar bersama semua pihak agar bisa menyelenggarakan sebuah misi kemanusian yang selama 12 tahun lamanya terkatung-katung akibat tidak adanya payung hukum yang kuat.

Padahal, jauh sebelumnya Pasal 65 ayat 3 UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan telah mengamanatkan kepada pemerintah untuk membuat PP terkait transplantasi organ dan jaringan. 

Jika ditilik satu per satu, PP ini dibuat dengan cukup komprehensif. Pasal 6 menjelaskan pendonor transplantasi terdiri dari pendonor hidup dan pendonor mati batang otak. Lebih rinci pendonor hidup didefinisikan yakni yang memiliki hubungan darah, biologis, atau yang memiliki hubungan emosional seperti teman dan kerabat. 

Berbicara terkait penerima donor atau resipien kini seluruh pihak tidak perlu khawatir. Bagi yang tidak mampu, Pasal 15 ayat 3 menjelaskan paket biaya transplantasi organ diberikan bantuan sesuai dengan mekanisme jaminan kesehatan nasional penerima bantuan iuran. 

Beleid di atas sangat perlu diapresiasi karena sebagaimana yang seharusnya terjadi bahwa kesehatan seluruh masyarakat adalah bentuk tertinggi dari segala apa yang ada di kolong langit ini. Artinya tidak akan ada lagi alasan bahwa si miskin tidak dapat hidup lebih laik. Semuanya akan ditanggung oleh negara.

Terkait pendonor, Pasal 16 menjelaskan bahwa orang yang belum pernah mendaftar sebagai pendonor dapat menjadi pendonor mati batang otak pada saat yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia. Dan proses donor bisa dilakukan jika keluarga terdekat memberikan persetujuan. Artinya, orang yang ingin menjadi pendonor tidak hanya bisa dilakukan jika orang tersebut sudah memiliki identitas calon pendonor.

“Ketentuan mengenai keluarga terdekat dan mekanisme persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 berlaku secara mutatis mutandis terhadap keluarga terdekat memberikan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),” bunyi pasal tersebut. (ATR)

Leave a Reply