Langkah-langkah Pencegahan Penularan Hepatitis di Unit Hemodialisis

KPCDI – Laporan Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) tahun 2018, menunjukkan prevalensi pasien cuci darah di Indonesia yang terpapar hepatitis C mencapai 19%. Sementara riset Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPDI) pada tahun yang sama dengan jumlah koresponden 200 orang pasien hemodalisis, angka prevalensi itu lebih besar lagi, yakni 45%.

Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia, dr. Aida Lydia mengatakan, paparan Hepatitis C pada pasien cuci darah bisa karena transmisi virus saat transfusi darah ataupun terpapar dari perangkat hemodialisis yang kurang higienis.

Karena itulah diperlukan upaya pencegahan yang lebih ketat di unit-unit hemodialisis, guna menekan potensi keterpaparan pada pasien. Pencegahan adalah cara terbaik, mengingat hingga saat ini belum ada vaksin untuk Hepatitis C.

“Pertama dengan melakukan screening dan surveilance. Jadi semua pasien yang baru mulai masuk unit hemodialisis di-screening, periksa antigen HBsAg untuk Hepatitis B, dan HCV untuk hepatitis,” ungkap dr. Aida dalam webinar awam tentang risiko hepatitis pada pasien gagal ginjal yang digelar secara daring oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Minggu (08/8).

Tindakan pencegahan lainnya yaitu terkait kewaspadaan universal. Hal ini meliputi edukasi bagi pasien dan tenaga kesehatan, penerapan prosedur yang higienis, pemakaian sarung tangan oleh tenaga kesehatan, penggunaan alat medis secara terpisah atau desinfektanisasi bagi alat medis yang dipakai berulang, manajemen penyimpanan obat serta manajemen limbah yang baik.

Ruangan hemodialisis serta fasilitas di dalamnya seperti tempat tidur atau kursi pasien, juga harus dilakukan desinfektan secara rutin. Permukaan yang berpotensi terkontaminasi harus dibersihkan. Begitu pula, mesin hemodialisis harus benar-benar steril sebelum digunakan oleh pasien.

“Selanjutnya, terkait kelengkapan APD. Tenaga kesehatan di ruang hemodialisis hendaknya memakai sarung tangan, masker, penutup kepala, kacamata pelindung, apron,” terangnya.

Ia melanjutkan, pasien yang terpapar Hepatitis B dan Hepatitis C masing-masingnya juga membutuhkan prosedur penanganan yang berbeda di unit dialisis. Bagi pasien terinfeksi Hepatitis B, harus menggunakan mesin terpisah dengan pasien lainnyadan tabung dializer harus single use, serta harus ditangani di ruang isolasi. Hal ini mengingat bahwa transmisi virus Hepatitis terjadi melalui paparan darah dan cairan.

Sementara bagi pasien cuci darah yang terinfeksi Hepatitis C, tetap bisa menggunakan mesin yang sama dengan pasien lainnya, dan tak perlu menjalani isolasi. Menurut dr. Aida, berbagai penelitian yang ada menunjukkan bahwa penularan Hepatitis C tidak terjadi melalui penggunaan mesin dializer. Namun tetap harus dengan protokol pencegahan seperti yang telah diterangkan di atas.

“Kemudian juga yang sangat penting adalah pencegahan dengan melakukan vaksinasi. Saat ini Hepatitis C belum ada vaksin. Tapi Hepatitis B ada vaksinnya. Maka pasien cuci darah idealnya menerima vaksin Hepatitis B,” pungkasnya.

Pencegahan secara ketat adalah upaya terbaik yang dianggap efektif menekan prevalensi Hepatitis pada pasien gagal ginjal. Data di berbagai unit hemodialisis di dunia menunjukkan, prosedur pencegahan yang ketat bisa menurunkan angka prevalensi keterpaparan hingga 50%. (Ads)

 

Leave a Reply