Terapi Penganti Ginjal: Hemodialisis dan Hemodiafiltrasi, Bagaimana Perbedaan dan Manfaatnya?

KPCDI – Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Ginjal Hipertensi, dr. Donnie Lumban Gaol, Sp.PD-KGH menjelaskan proses terapi hemodialisis adalah salah satu modalitas yang dibutuhkan bagi pasien penderita gagal ginjal kronik untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Setidaknya ada dua modalitas terapi dialisis dengan mesin yakni hemodialisis (HD) dan hemodiafiltrasi (HDF) yang jika dioptimalkan penggunaannya akan memberikan efektifitas yang baik bagi pasien.

Menurut Donnie, pada saat seseorang terkena penyakit ginjal kronik tahap akhir pasti akan banyak pertanyaan dari pasien. Seperti berapa lama seseorang bisa bertahan, apakah penyakit ginjal adalah akhir dari segalanya, dan apakah bisa beraktifitas dan bekerja seperti laiknya orang normal.

Atas dasar itu, Donnie menilai sebagai dokter memiliki tugas untuk memastikan dan meyakinkan pasien bahwa kualitas hidup seorang pasien gagal ginjal kronik tahap akhir ditentukan dengan bagaimana cara berkomunikasi dari dokter, perawat, dan pasien itu sendiri. Menurutnya semua pihak harus bekerjasama dengan baik.

Menurut Donnie salah satu tujuan dialisis adalah untuk membuang racun yang lebih banyak di dalam tubuh. Proses hemodialisis bisa dikatakan bagus jika dikerjakan dengan baik seperti memiliki akses vaskular yang bagus, putaran blood flownya yang optimal, sehingga ureum dan toksin ureum lainnya akan lebih banyak terbuang.

Untuk mencapai keadaan yang lebih baik, juga bisa digunakan dializer high flux yaitu dialiser yang memiliki performanya lebih tinggi serta pembersihan toksin lebih besar. Pada saat ini para pasien bisa memilih modalitas dialisis lebih lanjut yaitu hemodiafiltrasi (HDF), yang mulai banyak digunakan sebagai terapi lanjutan demi keadaan hidup yang lebih baik.

Hemodiafiltrasi sendiri adalah teknik penggantian ginjal ekstrakorporeal menggunakan membran yang sangat permeabel dimana hemodialisis (difusi) dan hemofiltrasi (konveksi) dikombinasikan untuk meningkatkan pembersihan zat terlarut pada spektrum dengan berat molekul yang lebih luas.

“Buat saya molekul sedang yang tidak terbuang dengan optimal di hemodialisis akan terbuang lebih banyak di hemodiafiltrasi. Artinya performa dari tubuh pasien akan jauh lebih baik,” kata Donnie, dalam webinar yang diselenggarakan Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) bersama Mayapada Hospital dan Fresenius Medical Care dalam rangkaian acara World Kidney Day 2021, Sabtu (27/3).

Menurut Donnie dengan terapi lanjutan hemodiafiltrasi akan meningkatkan level dan kualitas hidup pasien. Pun, secara teknologi, mesin hemodiafiltrasi bisa dibilang lebih baik dari mesin hemodialisis konvensional. Baginya, dialisis yang optimal apakah itu hemodialisis dan hemodiafiltrasi bisa membuat pasien lebih nyaman setelah melakukan proses cuci darah.

“Bukan berarti dibandingkan, dua-duanya bagus tetapi apabila kita bisa mendapatkan kualitas yang lebih baik pasien dapat menggunakan modalitas hemodiafiltrasi,” ujarnya.

Data menunjukan, terapi hemodiafiltrasi yang efisien memiliki keunggulan dalam pelbagai aspek yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Beberapa keunggulan HDF adalah pembuangan zat toksin yang jauh lebih baik dibandingkan hemodialisis konvensional.

Gambar mesin hemodialisa (HD) konvensional dan hemodiafiltrasi (HDF) yang digunakan sebagai terapi penganti ginjal bagi pasien dengan gangguan ginjal tahap akhir

Misalnya, dengan menggunakan HDF menunjukkan bersihan zat-zat inflamasi dan beta 2 mikroglobulin jika dibandingkan dengan hemodialisis. Juga dengan adanya proses konveksi, clearance fosfat dapat ditingkatkan dengan metode HDF hingga lebih tinggi. Pasien yang mendapat terapi HDF memiliki kadar fosfat serum lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang mendapat terapi HD.

Pun pada HD ada keterbatasan dalam membuangkan molekul sedang. Musababnya, pada proses HD difusi lebih banyak terjadi sementara proses konveksinya tidak begitu banyak. “Di hemodiafiltrasi, modalitasnya memang sangat berperan di difusi dan konveksi dan itu menyebabkan pengeluaran molekul sedang lebih banyak,” jelasnya

Beta 2 microglobulin dan zat terlarut bermolekul besar lainnya menunjukkan pengurangan lebih besar dengan HDF per sesi jika dibandingkan dengan HD high-flux. Hal ini dapat membantu dalam mengurangi terjadinya amyloidosis. Selain itu, molekul ini telah sering digunakan sebagai marker untuk clearance dari berbagai zat dengan berat molekul sedang.

Hal ini menunjukkan bahwa HDF juga akan lebih efektif dalam menghilangkan racun uremik lebih besar dibandingkan dengan modalitas difusi. Selain itu, HDF juga telah menunjukkan dapat membersihkan zat terlarut yang lebih besar seperti mioglobin salah satu contohnya.

Dengan begitu, pasien akan memiliki kualitas hidupnya lebih baik. Seperti tidur teratur, pengurangan gejala depresi, dan memiliki koreksi anemia yang lebih baik. Terpenting, melalui hemodiafiltrasi akan menurunkan faktor inflamasi seperti gatal dan gangguan kardiovaskular.

“Mesin hemodiafiltrasi bisa mendeteksi gangguan hemodinamik sehingga proses hemodiafiltrasi ini berjalan dengan smooth,” pungkasnnya. (ATR)

Leave a Reply