Ragam Pilihan Akses Hemodialisis dan Bagaimana Cara Merawatnya

KPCDI – Bagi Dokter Spesialis Bedah Vaskuler, dr. Patrianef, Sp.B(K)V, tindakan paling efektif untuk menyembuhkan pasien gagal ginjal kronik adalah dengan melakukan operasi transplantasi ginjal. Karena, hanya dengan cara tersebut fungsi ginjal yang sudah rusak bisa teratasi dan kembali seperti sedia kala.

Akan tetapi, menurut Patrianef, jumlah ginjal di dunia sangatlah terbatas. Untuk melakukan transplantasi ginjal salah satu ginjal pendonor harus diambil dan tidak bisa hanya sebagian selaiknya operasi transplantasi hati. 

Atas dasar itu, para pasien gagal ginjal kronik hanya bisa melakukan proses hemodialisis untuk menggantikan sementara peranan ginjal yang sudah kadung rusak. Untuk melakukan proses hemodialisis tentu saja ada beragam akses yang bisa dibuat. Akses ini dikenal dengan istilah line of life. 

“Sebagaimana diketahui sebetulnya peranan dari alat itu adalah ganti dari ginjal. Makanya yang terbaik adalah transplantasi karena tidak perlu cuci darah,” kata Patrianef dalam webinar yang diselenggarakan Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) bersama Mayapada Hospital dan Fresenius Medical Care dalam rangkaian acara World Kidney Day 2021, Sabtu (27/3).  

Menurut Patrianef, ada dua tipe dialisis. Yakni hemodialisis atau cuci darah memalui mesin dan peritoneal dialisis atau cuci perut atau mandiri. Data menunjukkan pasien gagal ginjal lebih memilih terapi hemodialisis yang angkanya mencapai 90% dibandingkan peritoneal dialisis. Sementara yang memilih transplantasi hanya 2% saja. 

Ia menjelaskan, konsep dari peritoneal dialisis adalah memasukan selang ke dalam rongga abdomen dan ujung selangnya akan dikeluarkan kembali. Nantinya, alat tersebut akan dimasukan ke dalam rongga peritoneal perut dan cairan dialisis akan dialirkan. Di dalam rongga perut terdapat peritoneum yang berfungsi sebagai filter sehingga sampah racun yang ada di ginjal bisa dikeluarkan melalui cairan dialisis.

“Cuma ini agak merepotkan pasien dan ada resiko infeksi juga,” ujarnya.

Sementara untuk pilihan hemodialisis, dibutuhkan pembuatan satu jalan atau akses sehingga darah dapat mengalir dan dibersihkan melalui prosedur dialisis. Tangan pasien yang akan dimasukan alat tersebut berada di sebelah kiri. Nantinya dokter bedah vaskuler akan membuat pembuluh darahnya membesar. 

“Sehingga nanti aliran yang cukup memadai itu dilaksanakan hemodialisis dari pembuluh darah tersebut. Dan ini biasanya lokasinya di pergelangan lengah bawah sampai ke siku. Bisa juga di lengan atas,” lanjut Patrianef.  

Setidaknya ada beberapa jenis pembuatan jalur hemodialisis. Pertama adalah Arteriovenous Fistula. Dimana dokter bedah vaskuler akan menghubungkan antara pembuluh darah arteri dan vena. Tujuannya vena akan diperlebar melalui penyayatan sehingga ukurannya bisa sekitar 6 milimeter dan volume alirannya menjadi 600 mili liter per menit. Jaraknya sendiri 6mm dari permukaan kulit dan panjang bagian yang lurus adalah 6 cm.

Ragam Pilihan Akses Hemodialisis, ada menggunakan AV Fistula, Double-Lumen dan AV Graft

Pengerjaan akses Arteriovenous Fistula memang terbilang cukup rumit. Musababnya dokter harus memperbesar vena normal yang memiliki ukuran hanya 2 mm dan arteri 2,5 mm. Sehingga untuk menyambungkan kedua pembuluh darah tersebut dibutuhkan waktu yang cukup lama. Pun, tingkat keberhasilannya sendiri hanya 50%. 

Di sisi lain akses ini memiliki kelebihan yakni memiliki resiko infeksi yang rendah dan bisa awet dalam penggunaan waktu lama.

Akses kedua adalah Graft. Dibandingkan dengan Arteriovenous Fistula, Graft memang kurang baik. Graft sendiri adalah pembuluh darah buatan dan memiliki resiko terjadinya trombosis atau penggumpalan darah yang bisa menyumbat aliran. Sampai hari ini, di seluruh dunia belum ada Graft yang bisa menggantikan pembuluh darah asli sehingga memiliki umur yang panjang untuk penggunaannya. 

Akan tetapi, akses Graft bisa langsung digunakan dalam waktu dua minggu setelah pembuatan. Sayangnya resikonya cukup tinggi. Ketika terjadi infeksi maka akses tersebut harus dibuang. Graft sendiri menurut Patrianef terbuat dari bahan yang mudah mengalami infeksi. 

“Resiko kematiannya tinggi. Makanya pasien yang dipasang Graft secepat mungkin diganti dengan cimino atau Arteriovenous Fistula,” jelasnya. 

Ketiga adalah Double-Lumen. Biasanya akses ini dibuat bagi seseorang yang datang dalam kondisi akut yang mendadak diperlukan proses hemodialisis. Double-Lumen sendiri terbagi menjadi dua kategori yakni short term dan long term. Proses ini akan memasukan kateter hingga jantung atau di vena cava superior.

Karena dia masuk hingga vena cava superior aliran tarikan cairannya bisa cukup besar. Untuk jenis long term, terdapat cuff atau serabut yang berfungsi sebagai penahan kuman. Umur akses ini bertahan mulai dari enam bulan hingga dua tahun jika dimaksimalkan. Sementara yang short term hanya lima kali pakai karena tidak memiliki cuff.

Dari penjelasan diatas, Patrianef menyarankan pasien hemodialisis untuk memilih pembuatan akses Arteriovenous Fistula atau cimino. Meskipun pembuatan jalur ini tergolong lama yakni 8-12 minggu akan tetapi hasilnya akan bertahan lebih lama. 

Ciri-ciri akses cimino yang baik adalah terasa getaran jika diraba. Untuk memastikannya, setelah dua bulan pembuatan akses maka pasien akan menjalani USG. Jika akses pembuluh darahnya jelas maka dokter bedah tidak akan menggambarnya. Sementara jika tidak jelas maka akan digambar dan diberikan ke petugas hemodialisa agar mempermudah tempat melakukan penusukan dari mesin ke akses hemodialisis. 

Lalu apakah pembuatan akses tersebut bisa gagal. Jawabannya tentu saja bisa. Biasanya satu bulan setelah pembuatan akses hemodialisis dokter akan memeriksa dan mengidentifikasi. Kebanyakan yang gagal karena terjadi trombosis atau penyumbatan, venanya terlampau kecil, atau adanya penyakit autoimun.

“Apa yg dilakukan pasien? Line of life ini harus diraba, getarannya harus bagus. Dan kita harus selalu latihan menggenggam bola karet. Hindari pakai pakaian ketat dan menghindari angkat beban berat,” ujarnya.

Agar proses tersebut berhasil, pasien juga harus sering menggerakan tangan kirinya secara perlahan. Juga hati-hati pada saat tidur dan usahakan agar tangan kiri tidak tertindih.  Agar akses ini bertahan lama, pasien harus memproteksi diri seperti jangan melakukan tensi, infus, dan pengambilan darah di tangan kiri yang terdapat akses ciminonya.

Pun, pada saat pendarahan jangan menekannya terlampau keras agar tidak terjadi oklusi pembuluh darah. “Lengan kiri harus dijaga dengan baik.” (ATR)

Leave a Reply