Pasien dengan kasus Corona Virus (COVID-19) yang parah dapat menyebabkan kerusakan organ lain, contohnya penyakit ginjal akut, pasien yang memerlukan dialisis. Tetapi, tidak semua kasus COVID-19 yang parah menyebabkan sakit ginjal.

Penyataan ini disampaikan oleh Dr. Maruhum Bonar H Marbun, SpPD-KGH, mengawali presentasi dalam seminar online (Webinar) yang digelar Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) dengan menggandeng Roche Indonesia.

Acara berlangsung hari Kamis ini (14/5/2020), dari Pukul 10.00 WIB sampai dengan 12.00 WIB. Dihadiri tidak kurang dari 123 peserta, dengan mengambil tema “COVID-19 dan Transplantasi Ginjal”.

Konsulen Ginjal Hipertensi yang juga Wakil Ketua Tim Transplantasi Ginjal RSCM ini memberi tips kepada pasien ginjak kronis untuk  mencegah tidak tertular virus corona.

“Hindari keramaian seperti pergi ke supermarket, menjaga jarak 6 kaki (1,8 meter) dengan orang lain,rajin mencuci tangan (dengan sabun, air mengalir, atau minimal dengan alkohol 60%), hindari menyentuh mata, hidung, mulut, tangan, dan wajah, membersihkan dan mendisinfeksi barang dari luar dan menggunakan masker,” jelasnya.

Sedangkan tips khusus bagi pasien transplantasi ginjal, Bonar mengatakan bahwa selain daya tahan tubuh yang rendah dan mudah terinfeksi, pasien juga harus memastikan kebutuhan obat atau perlengkapan sejeninsnya harus tersedia setidaknya untuk 2 minggu kedepan. Apabila saat situasi mengharuskan dilakukannya isolasi atau karantina mandiri di rumah, silakan menghubungi rumah sakit apabila ada keluarga yang sakit.

“Jangan mengubah cara penggunaan imunosupresan, menghindari bepergian keluar kecuali ada kebutuhan yang sangat penting, menyediakan obat- obatan setidaknya untuk persediaan 2 minggu, membeli obat dilakukan dengan pesan antar, lewat e-mail, atau meminta bantuan orang lain untuk membelikan, dan hubungi rumah sakit khusus transplantasi apabila mengalami gejala atau berkontak dengan pasien positif,” pesannya

Baca Juga :  Pentingnya Pilihan Home Dialysis untuk Mengurangi Dampak Kesehatan Pandemi COVID-19

Dalam sesi tanya jawab dipandu oleh Tony Samosir, seorang pasien post transplantasi ginjal yang sudah menjalani terapi tersebut sekitar 2 tahun dari Makasar bernama Donatus Martin bertanya kepada dr. Bonar.

“Dok, saya sudah 3 (tiga) bulan tidak periksa ke laboratorium dan konsultasi karena takut ke rumah sakit. Apakah boleh? Teman saya ada yang terinfeksi positif COVID-19. Apakah dalam jangka panjang ginjalnya bisa bermasalah,” tanya Pak Donatus Martin.

“Tetap harus ke rumah sakit karena sekarang sudah ada prosedur keamanan saat masuk rumah sakit, dan juga jumlah pasien yang berkunjung ke rumah sakit jauh berkurang. Jadi tidak perlu takut untuk cek ke rumah sakit,” ujar dr. Bonar.

Disamping itu, sekarang ada layanan periksa laboratorium yang berkunjung ke rumah. “Petugas laboratorium nya yang nanti akan datang ke rumah untuk periksa, jadi sangat mudah,” jawab dr. Bonar.

Sedangkan pertanyaan kedua, dr. Bonar mengatakan selama keluhan ringan, tidak ada dampaknya dan bisa diobati.

“Kecuali kondisi berat. Ini memerlukan alat invasif yang sangat beresiko. Bagi yang sudah sembuh dari COVID-19, tetap harus tinggal di rumah. Virusnya ini bisa bermutasi, dan sampai hari ini belum ditemukan vaksinya,” ujarnya.

Seminar online yang diinisiasi KPCDI sudah berlangsung empat kali, merupakan upaya KPCDI tetap melakukan edukasi ditegah kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Skala Besar). Nantikan webinar selajutnya dengan tema yang lebih menarik.

 

Penulis : Peter Hariyanto (Sekjen KPCDI)

Bagikan :