Apa yang Anda bayangkan dengan melihat foto di bawah ini? Seorang ibu penyitas gagal ginjal hampir tiga kali tidak cuci darah. Artinya, selama seminggu tidak melakukan kewajibannya dialisis. Sama saja, selama seminggu cairan yang masuk ke dalam tubuhnya (minum dan makan) numpuk dalam tubuhnya. Masuk ke pembuluh darahnya, membuat jantung bekerja keras untuk memompa darah.

Ibu ini tentu saja tidak bisa tidur dengan posisi normal, karena air akan masuk ke paru-parunya. Tidurnya harus duduk, agar air tidak naik ke paru-paru. Sang ibu akan merasakan sesak nafas yang luar biasa, dan harus dibantu selang oksigen. Merasakan begah yang luar biasa, karena begitu banyak cairan berada di perutnya. Alhasil, tidak doyan makan dan semakin kekurangan nutrisi.

Panca Ernawatin sedang menggunakan oksigen untuk bantuan pernapasan

Rata-rata tidak bisa tidur, kalaupun tertidur sering terbangun. Dan sudah dipastikan ibu itu akan kehausan luar biasa karena asupan airnya dibatasi dengan ketat.

Sebuah siksaan maha hebat, sangat menderita. Kata pasien yang pernah mengalami, seperti mau mati rasanya. Atau kata Tony Samosir, seperti ikan koi di aquarium yang tidak ada airnya, bersusah payah bernafas tapi tak ada oksigen yang masuk.

Itu baru cairan, belum racun yang numpuk. Ureumnya pasti tinggi sekali. Saluran pernafasannya penuh dengan gas amoniak. Seperti bernafas dan mencium aroma air kencing. Mual dan muntah-muntah sepanjang hari. Yang paling berbahaya kalau racun memasuki otak. Nyawanya akan bablas.

Seperti dua rekannya, terlambat lima hari, walau sempat cuci darah akhirnya meninggal. Yang satu, bahkan selama 12 hari tanpa cuci darah, lalu meninggal.

Biang keroknya sama. Dinyatakan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) COVID 19, lalu ditolak cuci darah rutin. Diletakan di ruang isolasi, tanpa layanan cuci darah. Katanya, menunggu tes swab dengan penantian yang mungkin bsia mencapai 14 hari. Sebuah penanganan yang edan, sembrono, keblinger.

Baca Juga :  Pasien Kronis Menjerit, Penyintas Gagal Ginjal Desak Pemerintah Kendalikan Harga Masker

Masalahnya cuma satu. Rumah sakit tidak punya ruang hemodialisa khusus. Kata lainnya ruang isolasinya tidak dilengkapi mesin cuci darah. Lebih tepat ruang isolasi untuk menyiksa dan membantai pasien cuci darah yang dikategorikan ODP, PDP dan Suspect COVID 19.

Protokol PERNEFRI (Perhimpunan Nefrologi Indonesia) memang dijalankan, yakni pasien PDP dialisisnya tidak dicampur dengan yang sehat untuk pencegahan penularan. Tapi, protokol lainnya tidak dijalankan, yakni membangun ruang terpisah untuk layanan hemodialisa. Sungguh keterlaluan, banyak rumah sakit layanan hemodialisa yang tidak menyediakan fasilitas itu, termasuk rumah sakit rujukan pasien COVID 19.

Dua teman kami itu setelah meninggal langsung keluar tes swab dan dinyatakan negatif. Mati bukan karena virus corona tapi karena kelalaian layanan rumah sakit yang terlambat memberikan tindakan cuci darah. Mereka hanya di isolasi! sangat kejam!

Ibu dalam foto ini bernama Panca Ernawatin, sudah cuci darah 16 bulan lamanya.

Pada hari Senin tanggal 20 April 2020, sang ibu ke IGD RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor, Kalimantan Selatan dengan keluhan sesak napas.

Selasa pagi tanggal 21 April 2020, direncanakan di rujuk ke RS. Ulin Banjarmasin karena diduga ada COVID 19 setelah ditemukan hasil rapid test reaktif. Namun pasien hanya mengeluhkan sesak, tanpa demam.

Selama menunggu konfirmasi dari RSUD Ulin Banjarmasin, si pasien di tempatkan di ruang Isolasi RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor.

Hari Rabu, 22 April 2020, diberi kabar bahwa batal di rujuk ke RSUD. Ulin Banjarmasin. Sampai dengan hari ini, Senin 27 April 2020, sang ibu tidak mendapatkan haknya untuk hcuci darah.

Kami sudah lelah berteriak dan menuntut adanya perbaikan layanan bagi pasien cuci darah selama wabah virus corona. Agaknya, seruan kami ditanggapi dengan sebelah mata.

Baca Juga :  Untuk Apa Cuci Darah, dan Siapa yang Harus Rutin Cuci Darah?

Kami butuh dukungan pubik, agar tuntutan kami dipenuhi, dan tidak jatuh lagi korban nyawa dengan sia-sia.

Bagikan :