KATETER UNTUK DIALISIS PERITONEAL TERDIRI DARI APA SAJA DAN APAKAH FUNGSINYA?

Kateter untuk Dialisis Peritoneal berupa selang plastik kecil (silikon) yang dimasukkan ke dalam rongga peritoneal melalui pembedahan sederhana. Kateter ini berfungsi untuk mengalirkan cairan Dialisis Peritoneal keluar dan masuk rongga peritoneum Anda. Bagian kateter yang terletak di dalam rongga peritoneum sebagian besar berlubang. Lubang-lubang ini berfungsi untuk mengalirkan cairan masuk ke dalam maupun keluar dari rongga peritoneum. Umumnya kateter dilengkapi dengan manset fiksasi putih yang berfungsi mempertahankan posisi kateter tetap berada di otot diantara kulit dan rongga selaput perut (peritoneal).

Jika salah satu dari manset tersebut muncul keluar, segera beritahukan perawat unit dialisis yang menangani Anda. Lokasi dimana sebagian kateter muncul dari dalam perut disebut “exit site”. Sesudah pemasangan, merupakan hal yang normal jika ditemukan sejumlah kecil cairan bening dan darah tampak pada exit site di sekitar kateter. Cairan ini akan hilang sendirinya dalam satu atau dua minggu seiring dengan sembuhnya exit site. Konektor titanium adalah sejenis logam yang berfungsi sebagai penghubung antara kateter dengan transfer set.

KAPAN SEHARUSNYA KATETER PERITONEAL DIPASANG ?

Anda dan dokter Anda lah yang akan memutuskan waktu yang tepat untuk pemasangan kateter ini. Sebaiknya diperhatikan bahwa lebih baik dijadwalkan waktu yang memadai untuk proses penyembuhan luka perut karena operasi pemasangan kateter. Pemasangan kateter direkomendasikan untuk dilakukan pada saat klirens kreatinin antara 5 – 10 ml/menit.

 

BAGAIMANA MEMASANG KATETER DI DALAM PERUT ?

ADA DUA PILIHAN, YAITU :

  1. Metode PERCUTANEUS

Dilakukan oleh dokter spesialis ginjal, pada tempat baring pasien dengan pembiusan lokal, dimana kateter diarahkan ke dalam dan ditempatkan di dalam rongga perut dengan menggunakan pemandu. Untuk metode ini, pasien tidak perlu menjalani rawat inap.

  1. Metode BEDAH
Baca Juga :  Managemen Anemia Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik

Dilakukan di ruang operasi, pasien harus menjalani rawat inap, dapat dilakukan dengan bius lokal maupun umum. Kedua metode ini sama baiknya. Pemilihan metode tergantung pada Anda dan dokter Anda. Keduanya direkomendasikan, tetapi metode PERCUTANEUS lebih menguntungkan karena tidak memerlukan ruang operasi.

 

PERAWATAN APA YANG HARUS SEGERA DIBERIKAN SETELAH KATETER DIPASANG ?

Untuk menghindari terjadinya infeksi dalam jangka waktu panjang perlu dilakukan perawatan Paska Operasi yang sifatnya mencegah pertumbuhan bakteri pada luka operasi maupun exit site.

  1. Mandi setiap hari tanpa membasahi exit site maupun luka operasi yang belum sembuh.
  2. Mempertahankan posisi kateter (imobilisasi kateter) Anda tidak boleh menarik atau memutar kateter, karena akan melukai exit site dan sering menyebabkan timbulnya infeksi
  3. Menjaga exit site dan luka operasi Anda tetap KERING. Keduanya harus tetap kering paling tidak 10 hari setelah pemasangan.

 

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN PERAWATAN JANGKA PANJANG KATETER DAN EXIT SITE ?

Tujuan dari perawatan jangka panjang adalah untuk menjaga agar kateter dan exit site tetap dalam kondisi yang baik. Perawatan tersebut meliputi

Menjaga posisi kateter (imobilisasi) secepat mungkin dengan exit site sehingga kateter tidak tertarik maupun tertekuk, karena hal ini dapat mengiritasi exit site dan menyebabkan infeksi.


JANGAN MENGGUNAKAN BAHAN KIMIA
Seperti alkohol dan bahan yang mengandung klorida untuk membersihkan exit site ataupun kateter, karena bahan-bahan ini dapat merusak bahkan melubangi kateter pada pemakaian jangka panjang. Jika hal ini terjadi, kateter harus diganti agar Anda terhindar dari infeksi peritoneal. Anda hanya boleh menggunakan sabun dan air untuk membersihkan exit site dan kateter.

 

BAGAIMANA ANDA MENGETAHUI BAHWA KATETER ANDA BERFUNGSI DENGAN BAIK ?

Baca Juga :  Ini Cara Melakukan Pertukaran Cairan CAPD yang Aman

Agar kateter dapat berfungsi dengan baik, posisi kateter harus mengarah (menjuntai) ke bawah dan tidak boleh menunjukan gejala hambatan pada aliran masuk dan keluarnya cairan dialisis. Anda dapat memeriksa apakah kateter Anda berfungsi baik atau tidak dengan mengamati waktu yang diperlukan untuk masuk dan keluar dari rongga peritoneum. Perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk cairan memasuki rongga peritoneal sekitar 10 menit, waktu ini disebut ‘waktu infusi”. Waktu yang dibutuhkan cairan untuk keluar dari rongga peritoneal ke kantong penampung adalah sekitar 20 menit, waktu ini disebut “waktu pengeluaran”. Jika Anda mengamati bahwa cairan membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang biasanya untuk pengeluaran atau infusi, segera hubungi unit dialisis Anda.

Bagikan :