Medan, Sumatera Utara – Ginjal yang rusak sering menyebabkan pasien mangalami anemia. Ginjal yang sehat akan menghasilkan EPO yang cukup. Ini yang terjadi pada pasien yang mengalami gagal ginjal. Lalu, Bagaimana caranya menjaga hemoglobin (HB) tetap stabil? Apa dampak bagi pasien gagal ginjal yang mengalami anemia dan tidak segera diatasi?

Sederetan pertanyaan di atas menjadi alasan Pengurus Cabang KPCDI Sumatera Utara untuk menggelar seminar awam bertemakan “Manajemen Anemia Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik”. Tema tersebut disandingkan dengan tema “Perawatan Akses Vaskuler”, dengan dihadiri lebih dari 100 peserta yang sebagian besar adalah anggota KPCDI. Acara diselenggarakan oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) bekerjasama dengan Combiphar disalah satu resto di kota Medan, Minggu (9/2/2020) kemarin.

“Ginjal yang rusak pada pasien gagal ginjal sering menyebabkan anemia. Ginjal yang rusak tidak cukup memproduksi EPO, menyebabkan sumsum tulang belakang lebih sedikit membuat sel darah merah. Apalagi ditambah selama proses hemodialisa, pasien sering kehilangan darah,” ujar  dr. Sandi Perutama Gani dalama seminar awam tersebut.

Lebih jauh, dokter yang masih muda ini mengatakan bila anemia tidak segera diatasi akan menyebabkan komplikasi pada jantung, dan penyakit tambahan lainnya akibat dari seringnya transfusi darah.

Ketua Cabang Sumut, Ade Tarigan (kanan) bersama dokter Sandi (kiri)

“Untuk itu gunakan besi dan erythropoiesis stimulating agents (ESA) secara adekuat untuk mencegah transfusi darah”, ujarnya

Sandi megatakan untuk mencegah anemia pada pasien gagal ginjal harus dilakukan pemeriksaan darah secara teratur.

“Minimal sekali dalam sebulan periksa darah rutin seperti HB, dan tiap tiga bulan sekali memeriksakan kandungan zat besi dalam darah,” ujarnya.

Menurut penjelasannya, zat besi merupakan komponen utama dalam pembentukan hemoglobin, yaitu bagian dari sel darah merah. Hasil pemeriksaan darah yang lengkap dapat memberikan informasi  berapa jumlah zat besi yang tersimpan dan jumlah ferritin yang tersedia yang gunanya menunjukan penyebab anemia.

Baca Juga :  KPCDI Mengkritik Wacana Cost Sharing yang Digulirkan BPJS Kesehatan

“Jika zat besi nomal, maka jumlah hormon EPO yang dibutuhkan melalui suntikan disesuaikan dengan berat badan pasien dan target HB yang ingin dicapai,” jelasnya lagi ***

Bagikan :